Bank Dunia Beri Kabar Buruk: Awas, Pasar RI Rawan Tergelincir!

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Tanah Air pada perdagangan Selasa (9/1/2024) kemarin terpantau bervariasi, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau ambles, sedangkan rupiah berhasil menguat, dan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) kembali naik.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih bergerak beragam hari ini. Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pergerakan pasar keuangan Indonesia bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

IHSG pada perdagangan kemarin ditutup ambruk 1,14% ke posisi 7.200,2. Setelah beberapa hari mencetak rekor dan bertahan di level psikologis 7.300, IHSG kembali menyentuh level psikologis 7.200.

Nilai transaksi IHSG mencapai sekitaran Rp 10 triliun dengan melibatkan 18 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 1,3 juta kali. Sebanyak 193 saham menguat, 337 saham melemah dan 241 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor bahan baku menjadi pemberat IHSG di akhir perdagangan kemarin, yakni mencapai 4,29%. Tak hanya bahan baku, sektor infrastruktur juga membebani IHSG sebesar 1,48%.

Meski IHSG melemah, tetapi investor asing masih mencatatkan aksi beli bersih (net buy) sebesar Rp 151,56 miliar di pasar reguler pada perdagangan kemarin.

Sedangkan di bursa Asia-Pasifik, IHSG menjadi yang paling parah koreksinya. IHSG pun tidak ikut ke dalam bursa Asia-Pasifik yang menguat. IHSG mengikuti KOSPI Korea Selatan, Taiwan TAIEX, Hang Seng Hong Kong dan SETi Thailand.

Berikut pergerakan IHSG dan bursa Asia-Pasifik pada perdagangan Selasa kemarin.

Sedangkan untuk mata uang rupiah pada perdagangan kemarin ditutup menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah mengakhiri perdagangan kemarin di posisi Rp 15,515/US$ di pasar spot, menguat tipis 0,03% di hadapan dolar AS.

Di Asia-Pasifik, rupiah menjadi salah satu mata uang terbaik kemarin, hanya kalah dari yen Jepang dan ringgit Malaysia. Sedangkan peso Filipina menjadi yang terburuk kemarin.

Berikut pergerakan rupiah dan mata uang Asia pada perdagangan Selasa kemarin.

Adapun di pasar surat berharga negara (SBN), pada perdagangan kemarin harganya kembali melemah, terlihat dari imbal hasil (yield) yang kembali mengalami kenaikan.

Melansir data dari Refinitiv, imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun yang merupakan SBN acuan negara terpantau naik 1,3 basis poin (bp) menjadi 6,728%.

Yield berlawanan arah dari harga, sehingga naiknya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang melemah, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%. Ketika yield naik, maka tandanya investor sedang melepas SBN.

IHSG ambles disebabkan karena terseret oleh tiga saham Prajogo Pangestu, di mana saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi saham yang memberatkan IHSG paling besar pada akhir perdagangan kemarin, yakni hingga mencapai 52 indeks poin.

Tak hanya BREN, saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) juga membebani IHSG masing-masing 33,4 indeks poin dan 15,5 indeks poin.

Padahal menjelang akhir 2023, saham BREN dan dua saham Prajogo lainnya sempat menjadi top movers IHSG, sehingga IHSG berhasil menyentuh level psikologis 7.200.

Selain itu, pelemahan IHSG terjadi karena aksi profit taking investor yang masih terjadi hingga perdagangan kemarin.

Sementara untuk rupiah berhasil memutus koreksinya selama lima hari beruntun, pasca Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) oleh Bank Indonesia (BI) tercatat lebih tinggi pada periode Desember 2023.

BI telah merilis data survei konsumen untuk periode Desember 2023 yang mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya. Hal ini tecermin dari IKK Desember 2023 sebesar 123,8, lebih tinggi dibandingkan 123,6 pada bulan sebelumnya.

Meningkatnya keyakinan konsumen pada Desember 2023 didorong oleh menguatnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE).

IKE tercatat meningkat terutama pada Indeks Pembelian Barang Tahan Lama. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) terhadap kondisi ekonomi 6 bulan ke depan tetap kuat ditopang oleh Indeks Ekspektasi Penghasilan.

Naiknya IKK ini mengindikasikan semakin baiknya konsumsi masyarakat Indonesia dan menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia berjalan dengan baik. https://gunakanlah.com/wp/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*