Bursa Asia Kebakaran Lagi, Kecuali Nikkei Masih Terbang

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Rabu (10/1/2024), di mana investor masih cenderung wait and see menanti rilis data inflasi China dan Amerika Serikat (AS).

Per pukul 08:35 WIB, hanya indeks Nikkei 225 Jepang yang menguat pada hari ini, yakni melonjak 1,54%.

Sedangkan sisanya kembali melemah. Indeks Hang Seng Hong Kong merosot 0,82%, Shanghai Composite China melemah 0,42%, Straits Times Singapura terkoreksi 0,79%, ASX 200 Australia terpangkas 0,29%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,45%.

Dari Korea Selatan, tingkat pengangguran yang disesuaikan secara musiman naik ke level tertinggi dalam 23 bulan terakhir yakni mencapai 3,3% di Desember 2023, dari sebelumnya sebesar 2,8% pada November 2023.

Data dari Biro Statistik Korea Selatan mengungkapkan bahwa jumlah pengangguran meningkat sebesar 78.000 menjadi 944.000, atau 9% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Sementara untuk rasio lapangan kerja terhadap jumlah penduduk mencapai 61,7% pada Desember 2023, naik 0,4 poin persentase dibandingkan tahun lalu.

Data inflasi AS yang akan dirilis pada Kamis dan Jumat pekan ini serta data inflasi China yang akan dirilis Jumat pekan ini membuat investor kembali menahan selera risikonya dan penguatan bursa Asia-Pasifik kembali tertahan.

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang cenderung melemah terjadi di tengah bervariasinya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street kemarin, di mana dua indeks utama Wall Street kembali terkoreksi.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup melemah 0,42% dan S&P 500 turun 0,15%. Namun, indeks Nasdaq Composite berhasil ditutup di zona hijau meski hanya naik tipis 0,09%.

Ekspektasi pasar terkait bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang akan mulai menurunkan suku bunga pada Maret mendatang perlahan-lahan menurun.

Berdasarkan perangkat CME FedWatch menunjukkan hanya ada peluang 65,7% pasar memperkirakan adanya pemangkasan setidaknya 25 basis poin (bp) pada bulan tersebut, turun dari 79% pada pekan lalu.

Hal ini telah mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury ke level 4%, dengan yield Treasury acuan tenor 10 tahun sedikit naik pada 4,019%, setelah mencapai level tertinggi 4,053% di awal sesi.

Di lain sisi, data yang dirilis semalam menunjukkan bahwa defisit perdagangan Negeri Paman Sam secara tak terduga menyempit pada November 2023, karena impor menurun, berdasarkan data dari Biro Sensus Departemen Perdagangan AS.

Defisit perdagangan menyusut 2% menjadi US$ 63,2 miliar pada November 2023. Data per Oktober 2023 direvisi sedikit untuk menunjukkan kesenjangan perdagangan melebar menjadi US$ 64,5 miliar, bukan US$ 64,3 miliar seperti yang dilaporkan sebelumnya.

Adapun ekspor AS pada November 2023 mengalami penurunan menjadi US$ 253,7 miliar, yang berarti lebih rendah dari posisi Oktober 2023. Impor juga turun menjadi US$ 316,9 miliar. Penurunan defisit barang dan peningkatan surplus jasa berkontribusi terhadap penurunan defisit secara keseluruhan.

Selain itu, investor juga akan memantau rilis data inflasi periode Desember 2023 pada Kamis dan Jumat mendatang untuk mendapatkan kejelasan mengenai jalur penurunan suku bunga dari bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).

Inflasi konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS Desember 2023 akan dirilis pada Kamis, sedangkan inflasi produsen (Producer Price Index/PPI) AS periode Desember 2023 akan dirilis pada Jumat akhir pekan ini. https://caridimanaka.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*