IHSG Balik Arah Jadi Cerah, 6 Saham Big Cap Ini Jadi Penopangnya

Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau berhasil menguat pada perdagangan sesi I Rabu (10/1/2023), setelah kemarin sempat ditutup ambles lebih dari 1% karena aksi profit taking investor.

Per pukul 10:51 WIB, IHSG menguat 0,35% ke posisi 7.225,639. Sebelum bergerak di zona hijau, IHSG sempat dibuka terkoreksi, namun beberapa menit setelah dibuka IHSG langsung rebound. Meski berhasil bangkit, tetapi IHSG masih bertahan di level psikologis 7.200.

Nilai transaksi indeks pada perdagangan sesi I hari ini mencapai sekitaran Rp 4 miliar dengan melibatkan 8 miliaran saham yang berpindah tangan sebanyak 692.007 kali. Sebanyak 268 saham menguat, 215 saham melemah, dan 217 saham stagnan.

Secara sektoral, sektor infrastruktur menjadi penopang terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni mencapai 1,03%.

Selain itu, beberapa saham juga memperberat (laggard) IHSG pada sesi I hari ini. Berikut saham-saham yang menjadi laggard IHSG.

EmitenKode SahamIndeks PoinHarga TerakhirPerubahan Harga
Amman Mineral InternasionalAMMN6,776.9003,76%
Telkom Indonesia (Persero)TLKM5,854.0101,26%
Barito Renewables EnergyBREN4,865.6003,70%
Bank Mandiri (Persero)BMRI4,536.4250,78%
Barito PacificBRPT2,941.1254,17%
Adaro Energy IndonesiaADRO1,102.4500,82%

Saham pertambangan mineral Grup Salim PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi penopang terbesar IHSG di sesi I hari ini, yakni mencapai 6,8 indeks poin.

Bahkan yang ajaib, dua saham Prajogo Pangestu yang kemarin menjadi top laggard IHSG, pada sesi I hari ini menjadi movers IHSG. Adapun kedua saham tersebut yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sebesar 4,8 indeks poin dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) sebesar 2,9 indeks poin.

IHSG berbalik arah ke zona penguatan setelah kemarin ditutup ambruk lebih dari 1%. Bahkan pada awal sesi I hari ini, IHSG sempat dibuka di zona merah. Namun selang beberapa menit, IHSG mampu rebound ke zona hijau.

Menguatnya IHSG terjadi di tengah adanya kabar yang kurang menggembirakan dari global, di mana Bank Dunia dalam laporan terbarunya ‘Global Economic Prospects January 2024’ memperkirakan ekonomi global akan melambat ke 2,4% pada tahun ini dibandingkan 2,6% pada 2023.

Ekonomi dunia diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar 2,7% pada 2025, proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan pada Juni lalu yakni 3,0%.

Pertumbuhan sebesar 2,6% pada 2023 juga akan menjadi yang terendah dalam 50 tahun, di luar resesi global saat pandemi. Bank Dunia juga menyebut ini adalah kali pertama mereka memperkirakan pertumbuhan ekonomi terus melandai selama tiga tahun beruntun.

Bank Dunia juga mengingatkan adanya risiko besar untuk pertumbuhan ke depan dari konflik di Timur Tengah, gangguan di pasar komoditas, mahalnya ongkos pinjaman, bengkaknya utang, melandainya ekonomi China, inflasi yang masih tinggi, serta perubahan iklim yang ekstrim.

Sementara untuk Indonesia, Bank Dunia mempertahankan proyeksi pertumbuhan untuk tahun ini di angka 4,9%. Namun, mereka memangkas proyeksi 2025 menjadi 4,9%, dari 5,0% pada proyeksi Juni lalu.

Bank Dunia bahkan mengingatkan jika Indonesia tidak akan lagi mendapat berkah lonjakan harga komoditas untuk tahun ini dan depan. Seperti negara Asia, Indonesia juga akan terimbas oleh melandainya ekonomi China. https://katasungokong.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*