PSI Dibawah Kaesang, Sanggupkah Melenggang ke Senayan?

Jakarta, CNBC Indonesia Pemilihan Umum 2024 yang termasuk di dalamnya pemilihan legislatif semakin dekat, tersisa 34 hari atau tepatnya berlangsung pada 14 Februari 2024. Salah satu partai yang menjadi sorotan ialah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang saat ini di bawah komando Kaesang Pangarep yang merupakan anak dari Presiden Indonesia saat ini sekaligus adik dari Calon Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

PSI merupakan partai yang baru saja dibentuk pada 16 November 2014 dan baru mengikuti Pileg 2019 lalu. Sayangnya, partai baru ini belum mampu memenuhi ambang batas threshold 4% kala itu, sehingga masih belum mampu tembus Senayan menjadi partai parlemen yang memperoleh kursi. Lantas, mampukah PSI tembus Senayan pada Pileg 2024 nanti dengan adanya peran dari Kaesang?

PSI Masa Grace Natalie

Pada Pemilihan Umum 2019, PSI menghadapi tantangan serius untuk meraih kursi di parlemen. Dengan perolehan suara yang tidak mencapai ambang batas 4%, PSI yang saat itu dipimpin Grace Natalie harus menghadapi fase penuh tekanan dengan hanya memperoleh suara dari Pileg DPR RI sebesar 1,89% atau 2,59 juta suara.

Meskipun gagal masuk parlemen, PSI tidak menyerah dan terus melakukan perubahan dan pengembangan dalam kepemimpinan. Langkah PSI yang menjadi pusat perhatian publik yaitu dengan Grace Natalie, sang pendiri dan ketua PSI, memutuskan untuk mundur dari jabatannya sebagai ketua umum dan memberikan tongkat estafet kepemimpinan kepada musisi terkenal, Giring Ganesha.

PSI Era Nidji

Giring Ganesha yang dikenal sebagai vokalis dalam grup musik Nidji, dihadapkan pada tugas berat untuk mengangkat elektabilitas PSI. Namun, ketenarannya di industri musik nampaknya belum mampu membawa kesuksesan untuk PSI.

Partai ini hanya mampu memperoleh suara berkisar 0-1%, menurut hasil survei tiga lembaga pada masa kepemimpinan GIring, atau belum memenuhi ambang batas threshold. Bahkan, nilai perolehan hasil survei tersebut masih lebih rendah dibanding Pileg 2019 yang mencapai 1,89%.

Berikut elektabilitas PSI dari tiga hasil survei Poligov Startegic Consulting, Populi Center, dan Charta Politika Indonesia:

Artinya, sudah jelas bahwa PSI belum memiliki elektabilitas saat itu, salah satu faktornya karena kurangnya pengalaman politik Giring. Namun, Giring mencoba untuk mengejawantahkan semangat baru bagi PSI.

Tantangan terbesar bagi Giring adalah membangun elektabilitas partai, yang terpuruk akibat pandangan publik terhadap kepemimpinan sebelumnya. Namun, situasi berubah kembali ketika Giring Ganesha memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua PSI.

Kaesang Gantikan Giring sebagai Ketua PSI

Langkah mengejutkan mundurnya Giring ternyata dibarengi dengan pergantian kepemimpinan dengan Kaesang Pangarep, anak dari Presiden Joko Widodo, yang mengambil alih kendali partai.

Beberapa analis politik melihat pergantian kepemimpinan sebagai “efek Jokowi.” Dukungan dari keluarga presiden bisa menjadi faktor penentu untuk mengangkat elektabilitas PSI. Jokowi Effect, sebutan untuk dampak positif keberpihakan pada Presiden Joko Widodo menjadi sorotan utama yang diperkirakan dapat mendorong perolehan suara PSI.

Tidak hanya itu, dinamika politik PSI di bawah kepemimpinan Kaesang Pangarep semakin menarik dengan dukungannya pasangan calon Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Fenomena Coattail Effect pun muncul.

Dukungan PSI terhadap Prabowo Subianto dengan wakilnya Gibran Rakabuming, putra sulung Jokowi, menimbulkan ekspektasi bahwa PSI dapat memanfaatkan efek ini untuk tembus Senayan.

Coattail Effect adalah fenomena di mana popularitas atau dukungan terhadap satu kandidat atau partai berdampak positif pada sosok tertentu atau dalam konteks ini dengan dukungan pada kandidat nomor urut 2. Dukungan terhadap paslon ini dapat menjadi peluang bagi PSI untuk memperoleh kursi di Senayan.

Fakta ini didukung dengan hasil survei PSI yang menunjukkan adanya kenaikan dukungan pada PSI. Hasil survei semasa kepemimpinan Giring menunjukkan PSI hanya memperoleh suara 0,7-1%. Namun, hasil survei menunjukkan adanya peningkatan menjadi 1,5-3,5%. Meski terdapat peningkatan, hasil survei PSI masih menunjukkan bahwa partai ini belum memenuhi ambang batas threshold 4% untuk tembus Senayan.

Meskipun PSI mengalami perubahan kepemimpinan yang cukup dramatis dan menghadapi berbagai tantangan elektoral, faktor-faktor seperti “Jokowi Effect”, Coattail Effect, peningkatan hasil survei dan dukungan terhadap Prabowo-Gibran memberikan harapan baru bagi partai ini.

Apakah PSI di bawah Kaesang Pangarep bisa tembus Senayan tahun ini? Pertanyaan ini masih terbuka dan akan tergantung pada strategi politik yang diterapkan oleh PSI dalam menghadapi Pesta Demokrasi 2024 ini serta bagaimana mereka mengelola momentum positif yang mungkin muncul dari dukungan terhadap Prabowo dan Gibran.

Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan apakah PSI mampu memanfaatkan momentum ini untuk mengubah nasibnya dan mencapai posisi yang diinginkan di panggung politik nasional.

Selain itu, salah satu data yang perlu diperhatikan ialah perolehan suara PSI dari setiap daerah pemilihan (dapil). Berikut data lengkapnya. https://makanapasaja.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*