Saham Emiten Prajogo Pangestu Rontok Berjamaah, Masih Bisa Turun Lagi?

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga saham emiten konglomerat Prajogo Pangestu terpantau pada rontok setelah mencetak penguatan fantastis sepanjang 2023. Akibat hal itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh lebih dari 1%.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Selasa (9/1/2023) hingga pukul 14.54 WIB saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berakhir Auto Reject Bawah (ARB) dengan anjlok hingga 20%, kemudian disusul PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ambles 17,42%. Sementara CUAN saat ini masih di suspensi sejak 19 Desember 2023 lalu.

Perlu dicatat, BREN telah kehilangan lebih dari Rp 250 triliun kapitalisasi pasarnya seiring dengan anjloknya harga saham hari ini. Hal tersebut akhirnya membuat BREN lengser dari urutan kedua market terbesar di bursa dan digantikan lagi oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 863,89 triliun.

Saham Prajogo Pangestu Jadi Penekan Utama Gerak IHSG Hari Ini

Rontoknya tiga saham Prajogo Pangestu hari ini juga menjadi penyebab utama penyusutan cukup dalam bagi IHSG yang mencapai lebih dari 1% menyentuh level psikologis 7200. Pasalnya, indeks poin yang disumbang oleh BREN, TPIA, dan BRPT cukup besar dengan akumulasi nyaris mencapai 100 poin.

Padahal, ketiga saham tersebut pada sepanjang 2023 menyumbang indeks poin ke IHSG cukup besar seiring dengan kenaikan harga saham yang ciamik. BREN jadi yang teratas menggerakkan IHSG dengan penguatan harga saham mencapai 861,5% dan sumbangan indeks poin sebanyak 260,35. Kemudian disusul TPIA yang berhasil mendongkrak IHSG sebanyak 105,11 poin, dan BRPT sebanyak 43,97 poin.

Tak lupa juga, saham CUAN melonjak paling tinggi hingga lebih dari 6000% ke posisi Rp13.425 per lembar, dengan sumbangan indeks poin ke IHSG sebanyak 55,51 poin.

Waspada Masih Rawan Penurunan Lanjutan

Beralih kembali ke hari ini, penyusutan dalam tiga saham Prajogo Pangestu patut dicermati lebih lanjut karena volume penjualan hari ini terbilang cukup besar. Secara teknikal, jika harga saham turun tetapi volume jual besar ini dinamakan divergensi yang berarti masih sangat rawan terjadi penyusutan lanjutan karena tekanan jual masih tinggi.

Pergerakan BREN, BRPT, dan TPIA secara teknikal

Lantas bagaimana kinerja keuangannya?

Mulai dari BRPT hingga triwulan ketiga 2023 mencatatkan laba bersih sebesar US$ 35,84 juta, berhasil melesat 217,31% yoy. Melonjaknya laba tersebut malah terjadi ketika pendapatan tergerus 11,13% yoy menjadi sebesar US$ 2,11 miliar. Kendati begitu, BRPT mampu melakukan efisiensi dari sisi beban pokok pendapatan dan beban langsung sebesar 17,34% yoy menjadi US$ 1,69 miliar sehingga laba setelah pajak masih terjaga tumbuh positif.

Selanjutnya, untuk kinerja BREN hingga September 2023 mencatatkan pendapatan US$ 445,29 juta. Nilai tersebut meningkat tipis 5,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pendapatan BREN didominasi oleh pendapatan dari kontrak pelanggan penjualan listrik sebesar US$205,46 juta, kemudian penjualan uap sebesar US$96,09 juta, biaya manajemen US$28.000, penjualan kredit karbon sebesar US$4.000. kemudian pendapatan disumbang segmen sewa operasi sebesar US$113,31 juta dan pendapatan sewa pembiayaan sebesar US$30,37 juta.

Sebagai catatan, BREN mencatatkan penjualan listrik dan uap, pendapatan sewa operasi dan pendapatan sewa pembiayaan dihasilkan dari PT Perusahaan Listrik negara (PLN).

Kontras dengan BRPT dan BREN, kinerja keuangan TPIA malah masih merugi hingga kuartal ketiga tahun ini sebesar US$ 21,38 juta, meski begitu nilai rugi tersebut sudah berhasil dipangkas lebih rendah hingga 80,83% dibandingkan kerugian pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Melansir dari laporan keuangan pada sembilan bulan pertama 2023, TPIA mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 14,64% yoy menjadi US$ 1,66 miliar. Nilai tersebut paling banyak ditopang dari penjualan lokal sebesar US$ 1,16 miliar, sementara sisanya merupakan ekspor sebesar US$ 492,98 juta.

Terakhir, untuk kinerja CUAN sepanjang sembilan bulan 2023 mencatatkan laba bersih sebesar Rp175,24 miliar. Nilai tersebut turun 30,8% dibanding periode sama tahun 2022 sebesar Rp253,34 miliar dan memangkas akumulasi rugi atau defisit sebesar 21,2% dibanding akhir tahun 2022 menjadi Rp647,13 miliar per 30 September 2023.

Di lain sisi, pendapatan CUAN per September 2023 berhasil tumbuh 26,4% yoy menjadi Rp1,158 triliun. https://sayurkana.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*