Putin Unjuk Gigi Jelang Pemilu, Pamer Ketahanan Ekonomi Rusia

SHARE  

Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi kompleks rumah kaca Solnechniy Dar, bagian dari holding agroindustri ECO-Culture di luar Stavropol, Rusia, Selasa, 5 Maret 2024. Solnechniy Dar adalah salah satu peternakan rumah kaca terbesar di Rusia. (Mikhail Metzel, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP) Foto: Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi kompleks rumah kaca Solnechniy Dar, bagian dari holding agroindustri ECO-Culture di luar Stavropol, Rusia, Selasa, 5 Maret 2024. (AP/Mikhail Metzel)

Jakarta, CNBC Indonesia – Perang antara Rusia dan Ukraina kini memasuki hari ke-749. Kehidupan masyarakat di kedua negara pun berubah drastis sejak invasi Moskow ke Kyiv pada 24 Februari 2022.

Di Rusia, saat ini beberapa bahan pokok impor, seperti buah-buahan, kopi, dan minyak zaitun, mengalami kenaikan harga yang signifikan. Sebagian besar merek global telah menghilang atau bereinkarnasi menjadi merek serupa di Rusia di bawah kepemilikan baru.

Meski begitu, tidak banyak perubahan ekonomi bagi sebagian besar warga Rusia di bawah kepemimpinan Presiden Vladimir Putin. Hal ini terjadi meskipun ada sanksi besar yang memutus sebagian besar perdagangan Rusia dengan Eropa, Amerika Serikat (AS), dan sekutu barat mereka.

Baca: India Terapkan UU Kontroversial ‘Singkirkan’ Warga Muslim, Ini Isinya

Rasa stabilitas menjadi aset utama bagi Putin ketika kembali mengikuti pemilihan presiden untuk masa jabatannya yang kelima dengan periode enam tahun.

“Perekonomian memainkan peran yang sangat penting dalam semua pemilihan Putin,” kata Janis Kluge, pakar ekonomi Rusia di Institut Urusan Internasional dan Keamanan Jerman, seperti dikutip Associated Press pada Rabu (13/3/2024).

“Bagi sebagian besar warga Rusia, yang memilih untuk mengabaikan perang, perekonomian adalah isu terbesar.”

Kluge menyebut stabilitas ekonomi merupakan sinyal bahwa Putin dapat memanfaatkan elite lainnya bahwa ia masih mampu memobilisasi massa. “Dan untuk itu, angka tersebut harus asli dan bukan sekedar angka yang dimanipulasi,” kata Kluge.

Baca: Media Prancis Rilis Kartun soal Ramadan di Gaza Tuai Kecaman, Kenapa?

“Jadi tetap penting adanya dukungan yang tulus ini, meski tidak ada peluang sama sekali bagi pemilih untuk mengubah siapa yang menjabat,” ujarnya.

Meski begitu Kluge menyebut produk domestik bruto (PDB), yaitu total output barang dan jasa dalam perekonomian, tetap menjadi “angka abstrak” bagi masyarakat awam, dan nilai tukar rubel tidak lagi menjadi sebuah simbol dibandingkan sebelumnya. Ini terjadi lantaran kebanyakan orang tidak dapat melakukan perjalanan dan jumlah barang impor lebih sedikit.

“Yang penting adalah inflasi,” katanya. “Dan ini adalah masalah dimana rezim benar-benar melakukan persiapan.”

Inflasi Rusia lebih tinggi dari perkiraan, yaitu di atas 7% dan ini di atas target bank sentral sebesar 4%.

Namun Dana Moneter Internasional (IMF) menyebut angka pengangguran tergolong rendah, dan perekonomian diperkirakan tumbuh 2,6% tahun ini, dua kali lipat perkiraan sebelumnya. Angka tersebut jauh di atas perkiraan pertumbuhan Eropa sebesar 0,9%.

Baca: China-Rusia-Iran Gabungkan Militer di Timur Tengah, Lawan Dominasi AS?

Bank sentral sendiri telah melawan lonjakan harga dengan menaikkan suku bunga menjadi 16%. Pemerintah telah mendukung mata uang Rusia dengan mewajibkan eksportir mengubah pendapatan asing dari barang-barang seperti minyak menjadi rubel, sehingga menekan harga sisa impor.

Sementara itu, larangan ekspor bensin selama 6 bulan mulai 1 Maret akan membantu menjaga harga bahan bakar tetap rendah di Rusia.

Pemerintah juga telah menawarkan hipotek apartemen dengan tingkat bunga yang disubsidi secara drastis, langkah yang meningkatkan rasa kesejahteraan pribadi masyarakat namun pada akhirnya akan membebani pemerintah dengan tagihan yang besar.

Kluge mengatakan faktor kuncinya adalah kemampuan Rusia untuk terus mengekspor minyak dan gas alam ke pelanggan baru di Asia. Selama harga minyak bertahan, Rusia dapat mempertahankan pengeluarannya yang tinggi untuk program militer dan sosial tanpa batas waktu.

Rusia memperoleh pendapatan ekspor minyak sekitar US15,6 miliar pada Januari, menurut pelacak minyak Rusia dari Kyiv School of Economics. Itu berarti sekitar Rusia mendapatkan US$500 juta per hari.

Dalam jangka panjang, prospek perekonomian kurang pasti. Kurangnya investasi asing akan membatasi teknologi dan produktivitas baru. Sumbangan pemerintah suatu hari nanti mungkin melebihi kemampuan bank sentral untuk mengelola inflasi. Sejauh mana kebijakan kemurahan hati akan berlanjut setelah pemilu, semuanya bergantung pada https://outbackball.com/Putin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*